RSS

Jatuh Cinta Sama Busan...

Setelah sekian lama (sangat sangat sangat lama) akhirnya saya posting sesuatu juga ke blog tercinta ini. Sebenarnya, alasan tidak posting ya apalagi kalo bukan males dan tidak ada mood buat nulis. Tapi, mulai sekarang pengen komitmen untuk bisa terus nulis ah.

Pada sekitar Agustus tahun 2012, (gila tripnya udah lama banget tapi baru posting sekarang) saya berkesempatan untuk traveling ke Korea Selatan, sebenarnya saat itu saya tidak terlalu fanatik dengan adanya demam Korean pop, saya hanya sebatas tau kepopuleran artis Korean pop dan beberapa artis Korea (terutama SNSD) saja. Tetapi, setelah traveling dari Korea Selatan, saya menjadi semakin maniak dengan hal-hal yang berbau Korea. Hahaha. Pada awalnya alasan memutuskan pergi ke Korea Selatan karena dapet tiket promo super murah kurang dari 3 juta rupiah bisa dapet tiket return ke Incheon. 

Bagi saya, pengalaman traveling yang menyenangkan adalah bukan saja karena suatu tempat memiliki pemandangan yang indah, tetapi juga bagaimana keramahan orang lokalnya. Buktinya, saya ingin kembali lagi ke Busan bukan karena keindahan alam yang dimiliki Busan, tetapi keramahan orang lokalnya yang bikin saya betah dan ingin balik ke sana lagi. Dari ketiga kota besar (Jeju, Busan dan Seoul) di Korea Selatan yang saya kunjungi, saya sangat teramat jatuh cinta dengan Busan. Di Busan, saya bertemu banyak orang lokal Korea yang sangat sangat ramah dan jauh berbeda dengan orang-orang di Jeju ataupun Seoul yang kehidupan orang lokalnya mungkin cenderung individualis. Yaaa, mungkin saya sedang hoki saat itu karena selalu bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan, sehingga saya mengeneralisasikan bahwa orang Busan itu sangat menyenangkan.

Baru saja mendarat di Busan, tepatnya saat menaiki subway dari airport Gimhae Busan menuju hostel, saya sudah mendapatkan keramahan orang lokal Busan. Di dalam kereta, mungkin karena penampilan saya yang lusuh, kere serta sedang keberatan menggendong tas ransel saya yang sebenernya gak berat berat amat, seorang ahjumma (panggilan untuk ibu yang sudah berumur) menyuruh saya dengan bahasa tarzan tentunya, untuk menurunkan ransel saya dari gendongan saya, mungkin ibu itu kasian ngeliat saya keberatan ngegendong tas ransel. Langsung reaksi saya saat itu adalah melepaskan tas ransel dan menaruh di lantai kereta sambil berkata 'gamsahamnida' kepada ahjumma itu. Ah baik sekali ahjumma itu.
Masih di dalam kereta, saat itu saya sedang memegang peta subway seluruh kota Busan, saya memang sedang sedikit kebingungan untuk menentukan tujuan akhir saya. Dengan mimik saya yang sedang kebingungan, sepasang kekasih cewe dan cowo mendatangi saya dan bertanya tujuan akhir saya, ternyata tujuan akhir saya sama dengan mereka, mereka langsung saja menawarkan kepada saya untuk mengikuti mereka supaya saya tidak bingung. Wah baik sekali pasangan itu, semoga langgeng deh. Akhirnya kami pun berbincang-bincang, ternyata mereka baru saja kembali dari Jeju untuk berlibur.

Kemudian, saya habiskan waktu di Busan untuk mengunjungi area Seomyeon. Seomyeon sendiri merupakan area yang wajib dikunjungi ketika di Busan, karena salah satu pusat jajanan di Busan adalah di area Seomyeon. Saya kembali menemukan keramahan orang Busan di area Seomyeon ketika membeli makanan ringan. Perbedaan ahjumma penjual makanan ringan di Busan dengan di Seoul benar-benar sangat berbeda, di Busan para ahjumma sangat friendly dan terus menerus mengajak kami ngobrol walaupun mereka tetep nyerocos pake bahasa Korea yang tentunya kami gak ngerti. Bahkan, ketika kami mengajak para ahjumma berfoto bareng, mereka juga ikut mengeluarkan kamera mereka untuk mengambil foto kami bersama. Kalau di Seoul, jangan harap deh ketemu ahjumma penjual makanan yang ramah. Saya sama sekali tidak menemukan ahjumma yang ramah di Seoul, bahkan temen saya yang saat itu sampai di Seoul duluan dan traveling di Seoul duluan justru diusir oleh ahjumma penjual tteokbokki karena cuma beli 3 porsi padahal untuk 9 orang. Kalo di Busan, jangan kuatir, beli tidak beli tetep dapet senyuman manis para ahjumma.

Malam harinya, untuk menikmati night life kota tersebut, kami mengunjungi Gwangalli Beach, dan kebetulan saat itu ada acara clubbing gratisan di pinggir pantai. Kalo acara seperti itu, dijamin banyak anak mudanya dan tentunya banyak cewe cantik bertebaran. FYI, cewe Korea itu cantik-cantik buanget, kulitnya mulus dan bikin betah untuk dikecengin, hal itulah juga yang bikin saya pengen kembali lagi ke Busan. Walaupun kecantikan mereka karena operasi plastik, tapi tetap terlihat cantik alami dan bukan menjadi masalah bagi saya, yang penting cantik. Hahaha. Saya berhasil untuk berfoto bersama dengan Nuna (panggilan untuk wanita yang lebih tua oleh pria yang lebih muda) asli Busan yang lumayan cantik walaupun sudah tua. Bahkan, teman-teman cewe saya yang saat itu traveling bareng ke Busan juga berhasil berfoto sama cowo asli Busan yang katanya sih unyu-unyu, padahal menurut saya sih biasa saja. Masih mending saya deh...

Akhirnya setelah beberapa hari traveling di Busan, saya harus meninggalkan Busan untuk melanjutkan traveling ke Seoul. Dari Busan ke Seoul saya menggunakan bus malam dan sampai di Seoul pagi hari. Kebetulan pada pagi itu subway Seoul belum beroperasi, tetapi kami harus segera sampai ke penginapan untuk drop tas ransel dan kemudian mengikuti tour lokal untuk mengunjungi perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan (nanti saya posting deh ceritanya). Kami memutuskan untuk naik taksi pada pagi itu, dan kami berhasil sharing taksi dengan orang lokal Korea yang juga sedang membutuhkan taksi. Kebetulan tujuan akhir kami di Seoul hampir sama, maka dari itu kami sharing taksi supaya lebih irit juga. Eh ternyata setelah ngobrol dengan susah payah, ternyata dia adalah mahasiswa di Seoul yang berasal dari Busan. Yahhhh, emang mungkin saya lagi hoki untuk bertemu nice people dari Busan. Hihihi.

Karena keramahan orang Busan itulah saya jadi ingin eksplor dan kembali lagi untuk mengunjungi Busan. Menurut teman saya orang Korea yang kuliah di Bandung, orang Busan banyak yang tajir dan konglomerat, wihhhhh siapa tau saya bisa dapet jodoh cewe Korea orang Busan yang tajirrrr... hahahaha. Busan, I'll be back someday to meet another nice people there :)


 photo IMG_0545.jpg
Pemandangan indah ketika akan mendarat di Busan



 photo IMG_0554.jpg
Seomyeon Area di Busan



 photo IMG_0560.jpg
Berfoto bersama salah satu calon istri saya, Seohyun SNSD :)



 photo IMG_0571.jpg
Night Club dadakan di Gwangalli Beach...



 photo IMG_0591.jpg
Haeundae Beach. Pantai yang katanya paling bagus se Korea, tapi ga ada apa-apanya dibandingin Bali. Yeah I love Indonesia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gili Trawangan, I'm in Love

Gili Trawangan adalah salah satu dari 3 gugusan pulau kecil yang terletak utara Pulau Lombok. Gili Trawangan juga pulau terbesar dibandingkan dengan Gili Air dan Gili Meno. Dari ketiga Gili, Trawangan merupakan yang paling ramai dengan kunjungan turis, fasilitas seperti hotel, restoran dan bar pun yang paling banyak ada di sini. Dengan panjang 3 km dan lebar 2 km, Gili Trawangan berpenduduk sekitar 800 jiwa. Kawasan yang paling ramai adalah bagian timur dari pulau ini.

Gili Trawangan bukanlah tujuan berlibur orang Indonesia, jadi jangan heran kalau sampai sana kita berasa turis asing di negeri sendiri. Semuanya bule bo! Semoga dengan tulisan saya di blog ini bisa menarik orang Indonesia untuk datang ke Gili Trawangan dan berwisata di negeri sendiri yang keindahannya tak tertandingi.

Bagaimana menuju ke Gili Trawangan? 
Gili Trawangan dapat diakses melalui kota Mataram yang juga merupakan ibukota dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dari kota Mataram, anda harus ke pelabuhan Bangsal yang kondisinya menyedihkan itu untuk menyebrang ke Gili Trawangan selama sekitar 1 jam. Dari kota Mataram anda bisa menggunakan taksi dengan tarif sekitar Rp. 100.000. Anda tidak akan berhenti tepat di pelabuhan Bangsal tetapi berhenti di Terminal Bus Pelabuhan Bangsal, ketika turun dari taksi anda akan ditawarkan oleh pengemudi cidomo (dokar) untuk membawa anda dari terminal bus ke pelabuhan dengan tarif sekitar Rp. 20.000 untuk satu orang. Jika anda orang yang berduit dan merelakan uang kecil itu untuk menggunakan cidomo silahkan mencoba, tapi bagi anda turis kere nan miskin seperti saya, lebih baik jalan kaki dari terminal bus ke pelabuhan Bangsal, hanya 10 menit jalan kaki kok, dijamin deket banget!

Sesampainya di pelabuhan Bangsal belilah tiket boat di loket pembelian yang mirip warung kopi seharga Rp. 10.000. Boat akan berangkat bila sudah penuh oleh penumpang lainnya, jadi harap bersabar.

Kota Mataram sendiri memiliki bandara yang terletak di Lombok Praya, sekitar 1 jam dari kota Mataram dan 2 jam dari pelabuhan Bangsal. Bandara Internasional Lombok yang baru saja beroperasi pada Oktober 2011 menggantikan bandara Selaparang yang dulunya terletak tepat di pusat kota Mataram. Bandara Internasional Lombok (BIL) melayani penerbangan ke berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar, Labuan Bajo, dll. BIL juga melayani penerbangan internasional dari Singapura, jadi bagi anda para WNI yang tinggal di Singapura, tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi Gili Trawangan ya. Hehe.

Selain itu, ada fast boat yang langsung melayani dari Gili Trawangan ke pelabuhan Padang Bai Bali selama 4 jam dan seharga Rp. 350.000. 

Aktivitas di Gili Trawangan
Aktivitas yang saya gemari dan tentunya gratis adalah berenang di pantai yang berpasir putih nan indah ini, selain berenang anda bisa berjemur sampai gosong secara gratis. Ditambah ngeliat cewe-cewe bule berbikin, bikin nambah seger pemandangan. Haha.

Snorkeling sangat diwajibkan bagi anda yang mengunjungi Gili Trawangan. Hanya merogoh kocek Rp. 100.000 doank anda bisa snorkeling di seluruh tiga gugusan Gili ini. Ada 3 lokasi snorkeling yang keindahan bawah lautnya tak tertandingi, pada lokasi yang kedua, anda akan dipandu untuk snorkeling sambil berenang sepanjang 2km, jadi siapkan tenaga ya. Gilanya spot kedua inilah yang keindahan bawah lautnya paling indah, berenang cape sepanjang 2km akan terbayar dengan semua keindahan karang di spot kedua lokasi snorkeling ini. Pada siang hari anda juga akan berhenti untuk makan siang di Gili Air, tentunya harga snorkeling belum termasuk makan siang yah.

Pijat atau massage juga merupakan aktivitas yang bisa dilakukan di Gili Trawangan, walaupun harganya bisa dua kali lipat dibandingkan dengan di Bali. Sepanjang area bagian timur Gili Trawangan, akan banyak sekali tempat pijat dari mulai yang abal-abal sampai ke tempat pijat yang dengan fasilitas yang bagus. Misalnya pijat di seluruh tubuh dengan aromaterapi di hotel Villa Ombak seharga Rp. 300.000 selama 1,5 jam sangat saya rekomendasikan.

Melihat sunset di Gili Trawangan juga aktivitas yang bikin saya merinding, sunset di pantai Kuta Bali sih ga ada apa-apanya kalo dibandingkan dengan di Gili Trawangan, selain itu, saat menikmati sunset kita juga ditambah suguhan gunung Agung di Bali yang bikin saya tambah merinding. Andai saya bisa membawa pasangan hidup ke sini. Uh. Memang, untuk menuju ke sunset point di Gili Trawangan ini harus berjalan kaki lumayan jauh dan jalannya agak becek. Untuk menuju ke sana, anda tinggal mengikuti petunjuk arah yang tersedia. 

Berkeliling Gili Trawangan
Gili Trawangan (maupun Gili Air dan Gili Meno) merupakan tempat yang tidak diperbolehkan untuk kendaraan bermotor masuk ke sana. Karena itulah, Gili Islands ini ga ada yang namanya polusi udara kaya asep kendaraan dan semacamnya, bener-bener bisa menyejukkan paru-paru bagi anda yang biasa tinggal di perkotaan yang penuh polusi.

Untuk berkeliling di Gili Trawangan ada transportasi umum yang disebut Cidomo, kalau di Jawa disebut Dokar yang ditenagai oleh seekor kuda dan duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja. Selain itu, bisa juga menyewa sepeda untuk berkeliling di Gili Trawangan dengan harga yang cukup bersahabat. Bagi turis miskin kaya saya, jalan kaki adalah pilihan yang tepat dan sehat. Haha. 

Penginapan
Ada banyak sekali penginapan di Gili Trawangan dari mulai kelas atas sampai kelas yang abal-abal. Sedihnya, banyak pemiliknya ada bule, duh gimana bisa makin maju ya kemandirian kita kalo segalanya dikuasai orang asing.

Nah, bagi anda yang kaya melintir bahkan buang air besar juga keluar duit, saya sangat merekomendasikan Hotel Villa Ombak, walaupun lokasinya yang cukup pojok, tapi membuat hotel ini sepi dan nyaman untuk beristirahat. Bagi anda yang gak miskin-miskin amat tapi juga gak kaya melintir, Tir Na Nog adalah pilihannya. Nah, bagi turis backpacker maupun turis miskin lainnya, carilah penginapan yang masuk ke gang-gang, harganya bisa Rp. 200,000 saja. 

Hal yang perlu diperhatikan
Gili Trawangan ini pulau yang sangat kecil, jadi untuk mendapatkan air tawar yang keluar dari keran itu mustahil. Saya aja 3 hari di sana sampe eneg, mau sikat gigi, mandi, cuci muka semuanya asin rasanya. Oleh sebab itu, saya sarankan anda membawa persediaan air kemasaan yang cukup banyak dari Lombok. Namun, di Gili Trawangan tetap tersedia air kemasaan kok, tapi ya itu dia MAHAL kalo beli langsung di sana.

Anda tidak perlu kuatir kalau kehabisan uang, karena ATM tersedia di sana. Pembayaran dengan kartu kredit visa atau master card juga diterima.

Sinyal untuk telepon genggam juga tersedia sangat baik kualitasnya di sana. Hampir semua penyedia layanan telepon genggam sinyalnya kuat-kuat dan bagus kok.

Masyarakat asli di Gili Trawangan mayoritas beragama muslim, Masjid pun tersedia banyak di sana. Karena itu juga, anda sebaiknya tidak berbikini ataupun kancutan doank jika berkeliling di dalam area bukan pantai di Gili Trawangan.

 Jalanan di Gili Trawangan, tidak ada kendaraan bermotor.


Aaarrgghhhh... Pantainya ga nahan...

Narsis di sunset point...

Teman seperjalanan selama snorkeling, gak ada orang Asianya sama sekali kecuali saya...

Snorkeling time... Yuhuuu... Snorkeling berjam-jam tapi gak berasaa...

Lunch at Gili Air, before snorkeling again... Hehe...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Enaknya Terbang Pake Citilink Garuda Indonesia

Penerbangan bagi seorang penikmat jalan-jalan kaya saya merupakan salah satu faktor yang penting. Bagi backpacker kere kaya saya, paling nikmat ya naik pesawat yang dibeli pake harga promo. Hehe.

Beberapa bulan yang lalu, saya berhasil menggeret seorang teman dan berhasil membuat rencana untuk jalan-jalan ke Gili Islands dan Bali. Yaa, asik juga lah jalan-jalan di dalam negeri, toh banyak pantai-pantai bagus dan asik buat dinikmati di negeri kita ini.
Banyak banget cara untuk menuju ke Gili Islands, tentunya melalui kota Mataram kalo kita ingin menggunakan pesawat udara. Salah satunya transit di kota Surabaya dan melanjutkan perjalanan dari Surabaya ke Mataram dengan maskapai swasta nasional lain.

Nah, pada jalan-jalan kali ini saya berhasil mencicipi penerbangan murah dari Citilink Garuda Indonesia. Harga tiket yang saya beli juga terbilang sangat murah untuk rute Jakarta-Surabaya, apalagi kalo dibandingkan dengan sang induk, waduh jauh banget deh.

Ternyata eh ternyata, I was impressed by Citilink's service. Awalnya saya mengira bahwa penerbangan saya nantinya akan biasa-biasa saja, yaa standar airline LCC lah, eh malahan beyond expectaction loh. Banyak hal yang membuat saya mau lagi buat terbang pake Citilink deh.
1. Namanya juga LCC atau Low Cost Carrier, yang pasti harganya murah, seperti yang udah saya ceritakan tadi, saya dapet harga tiket untuk sektor Jakarta-Surabaya one way sangat murah.

2. Sejauh ini, seluruh penerbangan Citilink adalah domestik dan berangkat dari terminal 1C, jadi gak usah sumpek-sumpekan deh sama keramaian di terminal 1A dan 1B Soekarno Hatta International Airport yang terkenal padet banget. Terminal 1C juga baru aja direnovasi, jadi bakal terasa fresh banget deh menggunakan terminal ini, beda daripada terminal lainnya.
 
3. Awalnya saya mengira kalo airline LCC pasti ada aja delaynya entah 10 menit lah 20 menit atau lebih, eh ternyata penerbangan saya on time loh, mungkin juga pada saat itu saya termasuk orang yang beruntung. Hehe.

4. Free bagage 20 kilograms. Yeahhhhh, sebagai turis kere, terkadang berat untuk saya membeli bagasi yang harganya biasanya diluar harga tiket untuk penerbangan LCC, tapi Citilink memberikan bagasi GRATIS sebesar 20KG. Jangankan 20KG, bagi saya gratis 10KG aja cukup untuk ransel saya. Hehe.
 
5. Unfortunately, saya tidak mendapatkan kesempatan untuk mencicipi pesawat baru A320 yang sudah mulai berdatangan dalam jajaran armada Citilink. Sebenernya, pesawat A320 yang sudah datang bukan brand new sih, tapi tetep aja saya ngarep dot com buat nyobainnya. Hehe. Tapi, kabar baiknya, dalam beberapa tahun mendatang A320 maupun A320NEO yang bener-bener gress dari pabrik Airbus bakal berdatangan, jadi makin mau aja deh terbang sama Citilink lagi nantinya.

A320 Citilink dengan destinasi lain

6. Citilink merupakan anak perusahaan dari Garuda Indonesia, maskapai nasional kita yang berada di kelas premium dan merupakan maskapai terbaik menurut saya di Indonesia, walaupun harga tiketnya mahal banget tapi memang servicenya oke. Oleh karena itu, perawatan pesawatnya, interior kabinnya, bahkan safety card (petunjuk keselamatan yang biasa ada di kantong kursi) pun Garuda banget, jadi gak perlu takut untuk terbang pake Citilink. Hehe.



Jadwal seluruh penerbangan di Terminal 1C SHIA


 
Waiting room terminal 1C yang terlihat fresh karena baru renovasi



My ride, PK-GZQ to SUB GA021



Boarding




Kabin dengan interior yang Garuda banget. Hehe



Arrived safely at Surabaya. Thank you Citilink Garuda Indonesia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Disangka Cowok Korea, di Filipina

Gara-gara baca buku The Naked Traveler-nya Trinity Traveler, saya jadi penasaran sama Filipina. Filipina itu masih merupakan negara di Asia Tenggara lho, tapi masih bukan destinasi perjalanan favorit bagi kebanyakan orang Indonesia, terbukti dengan jarangnya tour agent asal Indonesia yang menyediakan paket tour ke Filipina, maka dari itulah saya jadi makin penasaran sama Filipina. Akhirnya setelah browsing sana-sini, Filipina punya banyak pantai yang keren-keren. Gairah jalan-jalan saya pun makin menggeliat karena saya salah satu penikmat keindahan pantai.

Eh, disaat penasaran banget sama Filipina, Tuhan buka jalan. Saat itu, Airlines National Flag Carrier-nya Filipina yang merupakan maskapai premium, ngadain promo yang sangat menggiurkan. Saya berhasil ngajak seorang teman yang sama-sama juga penasaran dengan Filipina.

Destinasi pertama di Filipina adalah Bohol dan Panglao Island. Setelah menikmati Dumaluan Beach dan White Beach seharian, malam itu kami menginap di White Beach area. Gilanya, penginapan nyaman yang lokasinya strategis dan pinggir pantai ini harganya terbilang cukup murah, apalagi setelah dibagi dua.

Ketika kami sedang mencari makan malam, kami diteriakin “Annyeonghaseyo” oleh salah satu pelayang restoran, yang artinya sapaan halo dalam bahasa Korea. Saya pun langsung menjawab, “No, I’m not Korean, I’m Indonesian” (bangga). Pelayan itu pun menjawab “Really, sir? Both of you look like Korean.”

Buset dah, kami berdua memang bertampang oriental, tapi badan kami yang gendut dan muka yang bulat sama sekali tidak mirip orang Korea yang rata-rata bermuka kotak dengan rahang yang tegas.

Keesokan harinya, kami menyewa mobil dan supir untuk berkeliling Bohol. Setelah supir kami yang bernama Mr. Buyat menjelaskan rute kami hari itu di Bohol, dia bertanya pada kami, “Are you Korean, sir?” Saya pun menjawab kalau saya bukan orang Korea, tapi orang Indonesia. Ternyata, hasil ngobrol kami dengan Mr. Buyat, banyak cowok Korea yang belajar bahasa Inggris di Filipina dan salah satu asal turis terbesar di Filipina adalah orang Korea. Pantes aja kami dikira orang Korea dari semalam.

Malam harinya kami menginap di Tagbilaran City, untuk mengejar penerbangan kami di pagi hari menuju Kalibo, Boracay. Saat selesai check in di penginapan, sang resepsionis penginapan kami berkata, “I’m glad to see Korean boys like you stay in here.” Padahal si resepsionis tadi udah meminta kami menunjukkan paspor kami yang jelas-jelas paspor hijau bertuliskan Indonesia. Duh, akhirnya saya diem aja deh, cape juga menyangkal kalo kami bukan Korean.

Sesampainya di Boracay yang bisa dibilang ‘Bali’-nya Filipina, banyak banget cowok Korea yang mengunjungi pulau itu. Oh, ternyata benar kata Mr. Buyat, kalau orang Korea merupakan salah satu turis terbesar yang mengunjungi Filipina.

Teman-teman cewek saya di Indonesia banyak yang tergila-gila dengan cowok Korea yang katanya cakep-cakep, sampai di Boracay yang penuh dengan orang Korea, saya pun mulai mengamati para ‘pesaing’ saya. Ternyata dari hasil pengamatan saya, cowok Korea yang saya lihat di Boracay gak ada yang bisa menandingi saya tuh. Rata-rata cowok Korea yang saya lihat itu kurus kerempeng, malah terlihat kaya pecandu narkoba yang lagi sakau deh. Cowok Korea yang saya lihat  juga lebih cenderung dikatakan cantik daripada cakep, apalagi mereka berpakaian modis banget dengan asesoris yang aneh-aneh.  Ih, jauh masih mending saya deh kalo gitu. Boleh dong narsis sedikit. Hihi.

Kami sangat menikmati pantai di Boracay saat itu, selain pasir pantainya yang putih dan lembut banget, berenang di sana juga rasanya seperti berenang di kolam renang karena airnya sangat jernih. Ketika mencapai kedalaman setinggi dada, saya pun masih bisa melihat jari-jari kaki saya dari atas  permukaan air saking jernihnya tuh air.
Makan malam dan ngebir di Boracay bisa dikatakan sangat murah, karena dengan hanya mengeluarkan sekitar Rp.80.000,00 kami bisa puas menikmati makan seafood all you can eat. Kalo di Bali, mungkin gak dapet tuh dengan harga segitu. Padahal, harga itu harga untuk turis.

Kata pertama ketika memilih restoran seafood all you can eat yang saya dengar adalah “Annyeonghaseyo”, saya pun sudah tidak heran lagi kalau disapa dengan sapaan itu. Sesudah makan dan bayar pun pelayan restoran mengucapkan “Gamsahabnida”, yang artinya terimakasih dalam bahasa Korea.

Selama di Boracay, gak kehitung deh di-annyeonghaseyo-in berapa kali. Malahan saya jadi ikutan berakting bak orang Korea asli. Setiap ada yang menyapa saya dengan sapaan ‘annyeonghaseyo’ saya langsung memberi senyum dan membungkukan badan serasa orang Korea beneran. Abisnya, cape juga sih kalo saya menyangkal terus-terusan.

Pertengahan tahun depan, saya akan traveling ke Korea, saya penasaran juga, apakah di Korea sononya saya bakal dikira orang lokal Korea juga? Let’s see deh. Hehe.
Berleha-leha di pantai membuat kulit kami yang cukup putih ini akhirnya menghitam dan gosong. Dua hari terakhir jalan-jalan di Filipina dengan kondisi sedih karena duit udah mau abis dan liburan juga mau berakhir, kami akhiri di Manila yang merupakan ibukota Filipina. Walaupun Filipina tingkat ekonominya masih dibawah Indonesia, tetapi mal-mal di Manila gak kalah sama yang ada di Jakarta. Orang lokal pun seneng banget yang namanya hangout di mal, gak jauh beda sih sama orang di kota besar Indonesia.

Dengan kondisi kulit yang gosong dan hitam, mungkin kami jadi tidak terlihat lagi seperti cowok Korea. Setiap kali mesen makan di mal, kami malah diajak ngomong pakai bahasa Tagalog. Saya pun menyangkal saat itu, “In English please!” Saat itu justru si pelayan yang terkejut dan bertanya “Where are you from?” Saya jawab, “Indonesia.” Si pelayan pun membalas “Oh, you look like us.” Buset dah!!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Orang China Galak-Galak

Sebelumnya saya tidak bermaksud untuk menghina atau merendahkan suku terbesar di dunia ini. Lha, wong saya juga orang Indonesia keturunan China. Hehe. Saya cuma pengen sharing aja kok.

Kebiasaan saya kalau lagi traveling adalah memperhatikan orang lokalnya. Hal ini menurut saya adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan dan tidak terlalu mengeluarkan uang yang begitu besar, apalagi saya turis kere yang sepeserpun duit keluar juga harus diperhitungkan. Hehe.


Saya berpikiran bahwa mengamati orang lokal itu sangat menyenangkan, karena saya bisa mengetahui bagaimana budaya di suatu daerah yang saya kunjungi tercermin melalu pengamatan dari orang lokal. Terkadang, kalau saya sudah mengunjungi semua 'place that must visit' dan saya bingung kudu ngapain lagi, yang saya lakukan adalah bergaul dengan orang lokal dan tentunya memperhatikkannya.

Ketika saya traveling di Filipina tepatnya saat itu di Boracay, saya pun bergaul dengan orang lokal. Saya banyak ngobrol dengan seorang ibu asli orang Filipina penjual sosis bakar sambil menikmati sosis tersebut. Seorang ibu yang sudah cukup berumur itu sangat ramah dan perawakannya mirip banget sama embah-embah atau nini-nini asli orang Indonesia. Dari obrolan itulah saya mendapatkan informasi kalau mencari pekerjaan di Filipina sangat sulit, sehingga kedua anak dari ibu tersebut bekerja di luar negeri.

Lain lagi, ketika saya ngobrol sama orang lokal di Kuala Lumpur. Saat itu, saya sedang dalam bis menuju ke sunway lagoon bersama seorang teman untuk menikmati makan malam all you can eat. Enaknya ngobrol sama orang Malaysia adalah bahasanya, gak perlu repot mikir pake bahasa Inggris, kita cang cing cung bahasa Indonesia aja mereka juga ngerti kok. Bahkan, orang Kuala Lumpur beretnis Tamil tersebut bercerita banyak kalau dia sudah mengunjungi beberapa kota di Indonesia selain Jakarta. Pada akhir tahun ia pun akan mengunjungi pulau Bali bersama koleganya.

Ketika saya traveling, orang lokal yang paling sering saya temui adalah orang China. Selama saya traveling di Asia, selalu aja ketemu sama etnis ini dan saat makan pun makanan yang selalu saya pilih adalah makanan China. Kalau saya kangen makanan berbumbu nendang ya saya pasti cari Chinatown di tempat saya traveling. Pasti selalu nemu. Hehe. Etnis atau keturunan China adalah etnis terbesar di dunia ini dan orangnya tersebar di seantero dunia. Coba aja deh, sebutkan kota besar mana yang tidak ada Chinatown-nya.

Traveling ke Hong Kong, Macau dan China-nya sendiri sudah pasti bakal ketemu lebih buanyak lagi orang China. Namun, entah kenapa walaupun saya sendiri orang China, saya suka malu ngeliat behaviour atau kelakuan orang China yang ada langsung di pusatnya. Nada mereka ketika berbicara selalu bernada tinggi dan terkesan bicara seenaknya, bagi saya sebagai orang Indonesia keturunan China dan biasa berbicara slow sesuai budaya Indonesia kan rasanya aneh dan beda banget sama orang China yang ada di Indonesia.

Dulu waktu saya kecil, saya masih ingat sekali ketika ikutan tour bareng keluarga ke Beijing, mama saya kena amuk orang Beijing gara-garanya sih simpel aja, mama saya ngeliatin orang itu secara saksama. Orang itu pun datang ke mama saya dan bicara dengan nada marah-marah. Idih gitu doank gak usah pake marah-marah kali. Mama saya yang cukup bisa berbahasa mandarin pun ngerti si orang tersebut ngomong, intinya sih "Ngapain lu ngeliatin gw woy?"

Hal ini juga saya alami pada saat saya traveling ke Hong Kong dan Macau. Suatu waktu di Macau saya nyasar dan salah naik bis, saat itu saya sedikit frustasi karena orang yang saya tanya dengan bahasa Inggris malah ngejawab pake bahasa mandarin. Pas nemu orang buat ditanya bisa bahasa Inggris, nadanya marah-marah, apalagi saat itu saya bilang "Pardon, me!" si orang itu ngulang sih ngulang tapi nadanya bo ga usah nyolot kale!!!

Kegalakan itu pun berlanjut saat saya melanjutkan perjalanan saya ke Hong Kong. Saat saya nanya ketersediaan kamar di salah satu guest house di Tsim Sha Tshui dijawab dengan nada yang sangat menyebalkan "No room tonight, you can read at the door before coming here." Cih, tinggal jawab secara baik-baik kenapa sih?

Sejak saat itulah saya sedikit frustasi untuk berkomunikasi dengan orang lokal di Hong Kong. Untungnya di Hong Kong ini papan petunjuk untuk ke daerah yang saya ingin kunjungi sangat lengkap jadi saya gak perlu repot-repot dan menikmati kegalakan orang China di Hong Kong untuk nanya jalan. Hehe.

Merasakan kegalakan orang China juga bisa dinikmati ketika saya mengunjungi Singapura. Singapura dengan mayoritas penduduknya adalah orang China maka gak heran di Little India sekalipun kita bisa menemui orang China yang lagi jalan-jalan santai. Kalau mau naik taksi di Singapura sih saya sering berharapnya dapet supir taksi orang Melayu. Karena berdasarkan pengamatan saya, supir taksi orang Melayu inilah yang paling ramah dan gak galak. Beda banget sama supir taksi om-om atau engkoh-engkoh orang China di Singapura. Mereka galak-galak dan kadang suka seenaknya, seperti mengeluarkan dahak keras-keras saat ada penumpang. Kan kesannya jiji-jiji gimana gitu.

Kalau saya disuruh traveling ke China daratan saya akan berpikir dua kali deh. Mending cari tujuan lainnya yang orang lokalnya jauh lebih friendly. Dengan muka oriental saya dan parahnya saya gak bisa berbahasa mandarin, mending nanti-nanti aja kalau mau traveling ke China daratan. Pasti kalau sampai di sana saya bakal diajak cang cing cung bahasa Mandarin dan saya gak ngerti, belum lagi ditambah amukan orang China asli. Hahaha.

Bisa jadi orang China teramah ada di Indonesia, karena sudah berbaur dengan budaya Indonesia yang katanya ramah-ramah itu lho. Hehe. Hidup Indonesia dahhhh!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Filipina, Negara yang Belum Terjamah Orang Indonesia

Tepat saya berusia 19 tahun, saya merayakan ulang tahun saya di negara orang dan kali ini di Filipina. Tepat pula detik pertama saya di usia 19 tahun ada di ketinggian 37.000 kaki. Seneng deh rasanya bisa ngerayain ulang tahun sambil traveling, ke negara yang cukup aneh pula. Hehe.

Banyak dari kita sebagai orang Indonesia yang masih belum ngeh kalau ternyata ada negara yang masih berada di Asia Tenggara tetapi jarang jadi tujuan jalan-jalan orang Indonesia, yaitu Filipina. Awalnya saya sangat tertarik traveling ke sana karena membaca buku The Naked Travelernya Trinity Traveler, apalagi buku beliau yang kedua ada bagian yang menceritakan tentang dia hidup selama kurang lebih setahun di Filipina. Saya sendiri pun seolah-olah mengimplementasikan cerita Trinity Traveler ke kenyataan ketika traveling di Filipina.

Ketika saya ngasih tau ke orang tua kalau saya mau traveling ke Filipina bersama seorang teman selama 9 hari dan 8 malam, orang tua saya kaget dan saya langsung dihujat dengan pertanyaan "Hah? Emang di sana ada apa gitu?" Namun, pada akhirnya orang tua saya juga mengijinkan saya untuk pergi malah nyuruh saya survey dulu siapa tau kami sekeluarga bisa jalan-jalan bareng ke Filipina.

Dua bulan sebelum berangkat, saya semakin rajin riset di internet. Kebanyakan saya dapatkan informasi selain dari buku Lonely Planet, juga dari review orang luar negeri yang sudah mengunjungi Filipina. Oalah, ternyata memang bener, jarang orang Indonesia yang pergi ke sana untuk jalan-jalan. Saya semakin semangat rasanya traveling ke sana. Dari riset yang saya dapatkan, ternyata baik budaya dan macetnya kota besar di Filipina gak jauh beda dari Indonesia, tapi yang membuat saya tambah semangat lagi adalah, orang Filipina walaupun tingkat perekonomian mereka jauh lebih rendah daripada Indonesia, mereka jago dan terbiasa berbicara dengan bahasa Inggris yang akan memudahkan saya traveling ke sana.

Ke Filipina bagi paspor hijau Indonesia tidak membutuhkan visa dan diijinkan untuk tinggal selama maksimal 21 hari. Tapi, dengan kemudahan ini saya kok masih heran yah, jarang sekali orang Indonesia yang mau jalan-jalan ke sini, bahkan jarang banget agent tour yang memiliki paket ke Filipina.

Singkat cerita, saya habiskan 9 hari 8 malam di Filipina dan saya sangat berkesan dan mau banget buat balik lagi ke sana tentunya untuk traveling lagi. Orang Filipina itu mirip banget sama orang lokal Indonesia, cuma mereka mungkin ada keturunan dari Spanyol jadi rada keren sedikit, nama orang-orangnya juga keren-keren. Supir taksi yang membawa saya dari Bandara Cebu ke penginapan juga lebih keren dari nama saya. Hahahaha. Saking miripnya orang Filipina dan Indonesia, seringkali saya dituduh orang lokal Filipina dan dengan secara langsung diajak berbicara dalam bahasa Tagalog. Saya sih langsung enak aja bilang "in english please!" Toh mereka yang mayoritas jago bahasa Inggris juga langsung ganti bahasa.

Hari terakhir di Filipina yaitu di Manila, dimana hari yang sangat sedih karena liburan harus berakhir dan duit tinggal dikit banget pun saya melakukan apa yang orang lokal lakukan. Toh ga afdol deh bagi saya sebagai turis kere kalo gak melakukan aktivitas yang satu ini. Yang orang lokal lakukan adalah going to the mall. Yakk benar, orang Filipina dengan indeks kemiskinan yang cukup tinggi, bahkan negara ini bisa dibilang lebih miskin dari Indonesia, memiliki mall yang guede guede dan mewah-mewah. Sama halnya dengan Indonesia (baca : Jakarta) yang kota besarnya gak afdol kalo ga ada mall. Mall of Asia yang berada di Manila yang juga merupakan mall terbesar di Asia Tenggara itu jauh lebih gede dari mall-mall yang ada di Jakarta, uniknya setiap mall di Manila ini tersedia taman yang juga berfungsi sebagai paru-paru kota. 

Saya jadi semakin aneh, kenapa ya banyak orang Indonesia yang jarang jalan-jalan ke Manila atau Filipina buat berbelanja, padahal orang Indonesia kan seneng banget sama yang namanya shopping sampe mati. Atau karena mindset orang Indonesia udah di set kalo belanja ya ke Singapura lagi, ke Bangkok lagi, ke Malaysia lagi dll. Padahal jelas untuk masuk ke Filipina sama mudahnya dengan masuk ke Singapura, Malaysia dan Thailand, cuma modal tiket pesawat doank. Hehe.

Di Bonifacio Street yang terkenal dengan berkumpulnya anak muda orang lokal Manila juga menawarkan wisata mall yang cukup mewah dan berkelas, tetapi lebih ke arah untuk nongkrong doank sih. Green Belt Mall yang guede itu ada 1 sampai 5 mall yang ngederet jadi satu merupakan mall yang termewah di Manila. Saya juga membandingkan harga barang di Filipina dengan di Indonesia. Ealah ternyata murah di Filipina lho, saya pun akhirnya merelakan peso terakhir saya untuk menghadiahi ulang tahun saya dari diri saya sendiri dengan celana pendek Zara. Begitu sampai di Indonesia ternyata saya mendapatkan harga 80ribu lebih murah. Lumayan banget. Hehe.

Kalau masalah keindahan alamnya sih saya sangat suka. Gue banget deh pokoknya, apalagi pantai di Filipina itu nggilani dan ngangenin pengen ke sana lagi. Harga makanan di tempat wisata pun lebih murah dari Indonesia, apalagi harga birnya, dengan 70ribuan bisa minum sampe mabok bok dah. All you can drink bahasa asyiknya. Hahaha.  Kalo kota Manilanya sendiri sih gak beda jauh sama Jakarta, malah lebih teratur dan rapi di Jakarta deh saya rasa. Semoga suatu saat nanti saya bisa traveling ke Filipina lagi deh. Tunggu cerita pengalaman traveling saya di Filipina lainnya yah... Hehe..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kamar Kecil dan Mahal, Penginapan di Hong Kong

Ketika traveling ke Hong Kong, tentunya saya harus menentukan dimana saya akan tinggal. Untuk tinggal di hotel yang mewah dan berbintang lebih dari 3 tentu bukan kelas saya. Mana bias backpacker kere kaya saya bayar mahal untuk hotel yang harga permalamnya bisa di atas sejuta rupiah. FYI, peningkatan harga property di Hong Kong termasuk yang tinggi di wilayah Asia, hal ini tentu karena wilayahnya yang kecil sehingga untuk membeli sebuah rumah atau apartemen bisa berlipat harganya daripada di Jakarta. Oleh sebab itu, gak heran kalau penginapan di Hong Kong itu mahal dan kecil.

Teman saya yang selalu traveling dengan gaya borju juga selalu mengeluhkan betapa kecilnya kamar hotel berbintang sekalipun di Hong Kong. Ketika traveling ke Hong Kong, saya sih gak banyak ekspektasi bakal dapet penginapan yang murah dan bersih. Ternyata emang bener, ternyata semua penginapan dengan kamar private dihargai lebih dari HKD300. Jangan berharap deh luas kamarnya luas banget, nanti malah kecewa. Fasilitasnya juga sedikit mengecewakan.

Saya sendiri ketika traveling di Hong Kong menginap di 2 penginapan yang berbeda, di Yesinn dan Lee Garden Guest House. Saya cukup puas dengan penginapan tersebut, walaupun fasilitas yang ada sangat minim, tetapi masih tetap terjangkau menurut saya. Misalnya saja ketika di Lee Garden Guest House, lift di dalam gedung harus dibuka pintunya secara manual, eh ketika masuk kamar, saya bisa mengganti channel televisi dengan kaki.

Kali ini saya juga akan merekomendasikan 3 penginapan di Hong Kong yang masih bisa dibilang nyaman dan ‘lumayan’ murah. Yang jelas, saya tidak merekomendasikan penginapan di Chung King Mansion, karena lewat depan bangunannya aja nyeremin, banyak sekali calo yang menawarkan penginapan, apalagi mereka menawarkan dengan tidak sopan dan memaksa. Chung King Mansion jelas menurut saya harus dihindari bagi yang traveling sendirian, apalagi kalo cewe. Hiiii….

Penginapan yang saya rekomendasikan adalah

Penginapan yang berada di pusat Tsim Tsha Tsui ini sangat saya rekomendasikan, walaupun harga yang mahal dan ternyata berbeda dari yang ada di website. Bangunan yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari Chung King Mansion ini adalah yang paling baru, bahkan lebih baru daripada Mirador Mansion. Jangan tanya ukuran kamar deh, kecil banget lah pokoknya. Saran saya, kalau memang mau memutuskan menginap di sini, anda lebih baik booking jauh hari lebih dulu, karena penginapan ini mungkin adalah yang terbaik di area Tsim Tsha Tsui, sehingga seringkali penuh.
Kelebihan lainnya adalah, Mr. Raymond sang empunya dan pengelola penginapan ini sangat ramah dan mau melayani orang walaupun cuma nanya-nanya doank. Hehehe.

2. Lee Garden Guest House http://www.starguesthouse.com.hk/
Saya menginap 2 malam di penginapan ini dan saya cukup puas dengan keadaan kamarnya, walaupun lagi-lagi harus saya katakan kamar ini kecil. Harga per-malamnya juga cukup mahal sekitar HKD 400. Menurut saya, harga segitu cukup worth it karena kamarnya sangat bersih dan harum.
Sebenarnya penginapan ini merupakan kongsi dengan Star Guest House, walaupun berkongsi tetapi gedungnya tetap berpisah cukup jauh.
Lokasi Lee Garden Guest House ini cukup dekat dengan gedung Yiu Fai Guest House dan masih berada di Tsim Tsha Tsui area yang tersohor di Hong Kong.
Oiya, kelebihan lainnya adalah, resepsionis dari Lee Garden Guest House ini adalah orang Chinese yang dulu kecil menghabiskan masa kecilnya di Medan, jadi bisa bahasa Indonesia. Staf cleaning servicenya adalah TKW dari Indonesia, jadi kalo iseng, ajak aja mereka ngobrol. Hehe.
Lihatlah betapa kecilnya kamar di penginapan ini. Tetapi sangat terawat dan bersih.

3. Yesinn HongKong http://www.yesinn.com/
Bagi para traveler pecinta penginapan mixed dorm, sangat tepat memilih penginapan ini. Pengalaman saya tidur di mixed dorm juga berawal di penginapan ini. Untuk harga mixed dorm 8 orang sangat murah, yaitu HKD 164 tetapi kamarnya sangat bersih dan harum. Staf resepsionisnya adalah seorang tenaga kerja asal Filipina yang sangat mahir dalam berbahasa Inggris, sehingga tidak menemukan masalah untuk berkomunikasi.
Kekurangannya dari penginapan ini adalah lokasinya yang jauh dari peradaban. Meskipun sangat dekat dengan MTR Fortress Hill tetapi sangat minim dengan hiburan, apalagi dengan pusat perbelanjaan bagi anda yang doyan belanja. Tapi, dengan lokasi yang jauh dari area turis, saya bisa merasakan aura orang lokal Hong Kong di Fortress Hill ini. Kebiasaan saya di sini adalah menonton orang lokal lalu lalang seperti gaya mereka berbelanja, menuju ke sekolah, melihat aktivitas ekonomi yang tumbuh sangat pesat di Hong Kong.
Pengalaman saya menginap di mixed dorm di sini sangat berkesan, karena saya mendapatkan teman baru dari berbagai negara seperti Belgia, Australia, bahkan kami sekamar bareng cewe asal China Mainland yang bahasa Inggrisnya aduhai. Tapi saya tetap malu karena ada seorang dari mereka terheran-heran karena saya yang orang keturunan Chinese malah tidak bisa berbahasai Mandarin. :(

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS