RSS

Orang China Galak-Galak

Sebelumnya saya tidak bermaksud untuk menghina atau merendahkan suku terbesar di dunia ini. Lha, wong saya juga orang Indonesia keturunan China. Hehe. Saya cuma pengen sharing aja kok.

Kebiasaan saya kalau lagi traveling adalah memperhatikan orang lokalnya. Hal ini menurut saya adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan dan tidak terlalu mengeluarkan uang yang begitu besar, apalagi saya turis kere yang sepeserpun duit keluar juga harus diperhitungkan. Hehe.


Saya berpikiran bahwa mengamati orang lokal itu sangat menyenangkan, karena saya bisa mengetahui bagaimana budaya di suatu daerah yang saya kunjungi tercermin melalu pengamatan dari orang lokal. Terkadang, kalau saya sudah mengunjungi semua 'place that must visit' dan saya bingung kudu ngapain lagi, yang saya lakukan adalah bergaul dengan orang lokal dan tentunya memperhatikkannya.

Ketika saya traveling di Filipina tepatnya saat itu di Boracay, saya pun bergaul dengan orang lokal. Saya banyak ngobrol dengan seorang ibu asli orang Filipina penjual sosis bakar sambil menikmati sosis tersebut. Seorang ibu yang sudah cukup berumur itu sangat ramah dan perawakannya mirip banget sama embah-embah atau nini-nini asli orang Indonesia. Dari obrolan itulah saya mendapatkan informasi kalau mencari pekerjaan di Filipina sangat sulit, sehingga kedua anak dari ibu tersebut bekerja di luar negeri.

Lain lagi, ketika saya ngobrol sama orang lokal di Kuala Lumpur. Saat itu, saya sedang dalam bis menuju ke sunway lagoon bersama seorang teman untuk menikmati makan malam all you can eat. Enaknya ngobrol sama orang Malaysia adalah bahasanya, gak perlu repot mikir pake bahasa Inggris, kita cang cing cung bahasa Indonesia aja mereka juga ngerti kok. Bahkan, orang Kuala Lumpur beretnis Tamil tersebut bercerita banyak kalau dia sudah mengunjungi beberapa kota di Indonesia selain Jakarta. Pada akhir tahun ia pun akan mengunjungi pulau Bali bersama koleganya.

Ketika saya traveling, orang lokal yang paling sering saya temui adalah orang China. Selama saya traveling di Asia, selalu aja ketemu sama etnis ini dan saat makan pun makanan yang selalu saya pilih adalah makanan China. Kalau saya kangen makanan berbumbu nendang ya saya pasti cari Chinatown di tempat saya traveling. Pasti selalu nemu. Hehe. Etnis atau keturunan China adalah etnis terbesar di dunia ini dan orangnya tersebar di seantero dunia. Coba aja deh, sebutkan kota besar mana yang tidak ada Chinatown-nya.

Traveling ke Hong Kong, Macau dan China-nya sendiri sudah pasti bakal ketemu lebih buanyak lagi orang China. Namun, entah kenapa walaupun saya sendiri orang China, saya suka malu ngeliat behaviour atau kelakuan orang China yang ada langsung di pusatnya. Nada mereka ketika berbicara selalu bernada tinggi dan terkesan bicara seenaknya, bagi saya sebagai orang Indonesia keturunan China dan biasa berbicara slow sesuai budaya Indonesia kan rasanya aneh dan beda banget sama orang China yang ada di Indonesia.

Dulu waktu saya kecil, saya masih ingat sekali ketika ikutan tour bareng keluarga ke Beijing, mama saya kena amuk orang Beijing gara-garanya sih simpel aja, mama saya ngeliatin orang itu secara saksama. Orang itu pun datang ke mama saya dan bicara dengan nada marah-marah. Idih gitu doank gak usah pake marah-marah kali. Mama saya yang cukup bisa berbahasa mandarin pun ngerti si orang tersebut ngomong, intinya sih "Ngapain lu ngeliatin gw woy?"

Hal ini juga saya alami pada saat saya traveling ke Hong Kong dan Macau. Suatu waktu di Macau saya nyasar dan salah naik bis, saat itu saya sedikit frustasi karena orang yang saya tanya dengan bahasa Inggris malah ngejawab pake bahasa mandarin. Pas nemu orang buat ditanya bisa bahasa Inggris, nadanya marah-marah, apalagi saat itu saya bilang "Pardon, me!" si orang itu ngulang sih ngulang tapi nadanya bo ga usah nyolot kale!!!

Kegalakan itu pun berlanjut saat saya melanjutkan perjalanan saya ke Hong Kong. Saat saya nanya ketersediaan kamar di salah satu guest house di Tsim Sha Tshui dijawab dengan nada yang sangat menyebalkan "No room tonight, you can read at the door before coming here." Cih, tinggal jawab secara baik-baik kenapa sih?

Sejak saat itulah saya sedikit frustasi untuk berkomunikasi dengan orang lokal di Hong Kong. Untungnya di Hong Kong ini papan petunjuk untuk ke daerah yang saya ingin kunjungi sangat lengkap jadi saya gak perlu repot-repot dan menikmati kegalakan orang China di Hong Kong untuk nanya jalan. Hehe.

Merasakan kegalakan orang China juga bisa dinikmati ketika saya mengunjungi Singapura. Singapura dengan mayoritas penduduknya adalah orang China maka gak heran di Little India sekalipun kita bisa menemui orang China yang lagi jalan-jalan santai. Kalau mau naik taksi di Singapura sih saya sering berharapnya dapet supir taksi orang Melayu. Karena berdasarkan pengamatan saya, supir taksi orang Melayu inilah yang paling ramah dan gak galak. Beda banget sama supir taksi om-om atau engkoh-engkoh orang China di Singapura. Mereka galak-galak dan kadang suka seenaknya, seperti mengeluarkan dahak keras-keras saat ada penumpang. Kan kesannya jiji-jiji gimana gitu.

Kalau saya disuruh traveling ke China daratan saya akan berpikir dua kali deh. Mending cari tujuan lainnya yang orang lokalnya jauh lebih friendly. Dengan muka oriental saya dan parahnya saya gak bisa berbahasa mandarin, mending nanti-nanti aja kalau mau traveling ke China daratan. Pasti kalau sampai di sana saya bakal diajak cang cing cung bahasa Mandarin dan saya gak ngerti, belum lagi ditambah amukan orang China asli. Hahaha.

Bisa jadi orang China teramah ada di Indonesia, karena sudah berbaur dengan budaya Indonesia yang katanya ramah-ramah itu lho. Hehe. Hidup Indonesia dahhhh!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

4 comments:

erikakawiselee said...

Orang Hongkong ataupun Guangdong gak woles kayaknya karena aksen bahasa Cantonese mereka yang kedengaran keras.

Kalo orang Beijing emang agak galak. Saya nawar barang aja diomelin, padahal emang si penjual masang harganya gak manusiawi. Moso tempelan kulkas kecil2 aja dipasang harga 22 RMB -__-
Tapi segalak-galaknya penjual Beijing, kalo kita dah beli barang dia, dia bakal kalem juga...hahaha

Orang Xiamen rata2 lumayan lembut bicaranya, orang Taiwan juga.

Sera Motor said...

setau saya orng cina di hongkong dan singapore memang ga ramah
tapi saya suka sekali di shenzhen orang nya ramah ramah

Millenium Motor said...

Nada mereka kan memang begitu -__-" anda keturunan Chinese dan anda seorang Traveller .. pasti bisa berbahasa mandarin kan? Masa nada 4 dalam bahasa mandarin aja gtw? kan nada 4 itu dihentak kyk org mrahh" -____-" memang nada mrka bgitu! Dan orang Chinese emang suka klo ngomong itu gede", so what? lebih jelas lebih bagus dan lebih percaya diri ga pemalu. Baca dong kenapah orang China itu klo ngomong suka keras" ? cari aja sejarahnya kan banyak .. bodoh sekali anda! Orang China itu banyak, ada miliaran, bagi mereka waktu adalah uang, bukan bwt ladenin orang yg ga penting krna di sana itu orang bnyk bgdd!

Dan tentang yg mama anda ngeliatin org China itu, wajarlah orang Chinanya marah, sapa yg ga marah diliatin trus? apa ga mikir " nihh org napa liatin gw? gw aneh ato apa? Ihh gajelas bgd sihh ni orang! " Thing Smart please, jgn nething! bodoh !

martabak indo said...

saya juga indonesia keturunan china. juga pernah ke China, juga pernah dibilangin suara keras2 tapi itu bukan galak malah dia baek ngasih tau (peduli sama orang lain kaya orang indonesia disini, misal kalau kita salah naik kereta, salah naik lift). Menilai orang dari suaranya emang subjektif banget, gimana kalau nilai sifat orang dari suku bangsa lain dari suaranya padahal ga ngerti sama sekali bahasanya? bisa2 lebih dari separoh orang di dunia dibilang galak.
Mama kamu emang salah liat orang begitu, jangan kan di China, di Jepang yang dibilang orangnya sopan2. Kalau diliatin pasti marah, dibentak dah elu. Pengalaman dulu tinggal di Jepang pernah dibentak sama persis sama kaya mama kamu. Ingat kebiasaan tidak sopan orang indonesia itu adalah liatin orang.
Inget kalau ke jepang jangan suka liatin orang, itu ga sopan banget.